Tuesday, 26 May 2015

prilaku peserta didik

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Setiap siswa dapat dipastikan memiliki perilaku dan karakteristik yang cenderung berbeda. Dalam pembelajaran, kondisi ini penting untuk diperhatikan karena dengan mengidentifikasi kondisi awal siswa saat akan mengikuti pembelajaran dapat memberikan informasi penting untuk guru dalam pemilihan setrategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pengajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran yang efektif dan sesuai dengan karakteristik perseorangan siswa sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
Kegiatan menganalisis perilaku dan karakteristik awal siswa dalam pengembangan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan unutk menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut. Dengan demikian, mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa adalah bertujuan untuk menentukan apa yang harus diajarkan dan yang tidak perlu diajarkan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Karena itu, kegiatan ini sama sekali bukan untuk menentukan pra syarat dalam menyeleksi siswa sebelum mengikuti pebelajaran.
Karakteristik siswa merupakan salah satu variabel dari kondisi pengajaran. Variabel ini didefenisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas individu siswa. Aspek-aspek berkaitan dapat berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir dan kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya.






BAB II
PEMBAHASAN

A.      Perilaku Awal Peswerta Didik
Siapa kelompok sasaran, atau peseta didik kegiatan intruksional itu? Istilah itu di gunakan untuk menanyakan dua hal tentang perilaku peserta didik: pertama, menanyakan peserta didik yang mana atau peserta didik jejeng pendidiksn apa. Kedua, menayakan sejauh mana kopetensi, kemampuan atau pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah di kuasai peserta didik sehingga mereka dapat mengikuti pembelajaran tersebut.[1]
            Pertanyaan di atas sangat penting di jawab oleh pendidikan instruksional sehingga sejak permulaan kegiatan instruksional telah dirancang dan di sesuaikandengan peserta didik yang mengikutinya. Jawaban itu merupakan pula suatu batasan bagi peserta didik yang bermaksud mengikuti pembelajaran tersebut dan bila belum mempunyai perilaku awal tersebut, sebaiknya tidak mengikuti pembelajaran tersebut.
Populasi sasaran di rumuskan secara spesifik seperi contoh di bawah ini: 
1.        Mata kuliah ini di sediakan bagi peserta didik yang memenuhi syarat sebagai berikut:
a.    Terdaftar pada perguruan tinggi ini pada tahun ajaran atau semester ini.
b.    Telah lulus mata kuliah A.
2.        Pelajaran ini di susun bagi siswa kelas dua SMA yang mempunya minat dalam kelompok bidang study A.
3.      Kursus ini di sediakan bagi karyawan pemerinth atau perusahaan suaasta yang memenuhi syarat sebagai berikut:
a.    Mempunyai ijazah minimal sarjana muda dalam bidang X atau setara;
b.    Pernah mengikuti dan lulus dalam kursus ;
c.    Menguasai bahasa inggris minimal secara pasif untuk membaca dan mendengarkan kuliah dalam bahasa inggris.
Penentuan populasi sasaran separti contoh tersebut di atas akan dapat membantu kelancaran penyelenggaraan instruksional.
Penentuan populasi ini biasanya di tetapkan oleh lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan, namun seorang pendisain instruksional masih perlu mencari informasi lebih jauh tentang kemampuan populasi sasaran yang di makdsud dalam menguasai setiap kompetensi dasar yang telah di rmuskan dalam analisis instruksional. [2]
Ada tiga macam sumber yang dapat memberikan informasi kepada pendisain instruksional yaitu:
1.      Peserta didik atau calon peserta didik.
2.      Orang-orang yang mengetahui kemampuan peserta didik atu calon peserta didik dari dekat seperti guru atu atasannya.
3.      Pengelola program pendidikan yang biasa mengajarkan mata pelajaran tersebut.

Ada beberapa teknik pengumpulan data yang dapat di gunakan mengidentifikasi kebutuhan instruksional. Pihak yang memberikan informasi di minta untu mengidentifikasi seberapa jauh tingkat penguasan peserta didik atau calon peserta didik dalam setiap kompetensi dasar melalui sekala penilaan (rating scales). Tekinik yang dapat menghasilkan data yang lebih keras adalah tes penampilan dan obserfasi terhadap pelaksanaan pekerjaan peserta didik serta tse tertulis. Namun, bila tes seperti itu tidak dapat di lakukan karena di rasakan kurang etismisalnya bagi peserta pelatihan yang sudah dewasa, kesulitan teknik pelaksanaan, atau tidak mungkin di lakukan karena sebab yang lain, penggunaan sekala penilaian saja sudah cukup memadai. Sekala penilaian tersebut di isi oleh orang-orang yang tau secara dekat terhadap kemampuan peserta didik dalam dan atau di isi oleh peserta didk sebagai self-report.
Berdasarkan masukan ini dapat di tetapkan titik Berangkat atau permulaan atau pelajaran yang harus di berikan kepada peserta didik. titik berangat itu adalah kompetensi dasar yang berada di atas kompetensi dasar yang telah di kuasai peserta didik atau calon peserta didik. [3]
Informasi yang di peroleh oleh peserta didik, masyarakat, dan pendidik tidak selalu sejalan. Pengetahuan dan keterampilan yang di rasakan telah cukup di kuasai oleh peserta didik ada kalanya di nilai sebaliknya oleh sumber informasi yang lain. Demikian pula, oengatahuan atau keterampilan yang di anggap tidak penting dan tidak relefan oleh peserta didik mungkin di anggap sebaliknya oleh pendidik. Dalam hal seperti itu, pengembang intruksional harus lebih memusatkan perhatian pada infomasi yang diperoleh dari peserta didik, data dari sumber lain tidak dapat diabaikan begitu saja.[4]

B.       Karakteristik Awal Peserta Didik
Selain mengidentifikasi perilaku awal peserta didik, pendisain intruksional perlu pula mengidentifikasi karakteristik peserta didik yang berhubungan dengan keperluan proseses desain intruksional. Karakteristik awal adalah ciri peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran. Ciri tersebut diperkirakan dapat memengaruhi tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran sehingga perlu diperhitungkan dalam proses desain intruksional. Pengetahuan pendisain intruksioanal tentang minat peserta didik pada umumnya, misalnya pada olahraga, dapat dijadikan bahan dalam memberikan contoh pada saat menguraikan isi pembelajaan. Demikian pula, pengetahuan pendisain instruksional tentang kurang mampunya peserta didik dalam membaca bahasa inggris merupakan masukan untuk memilih bahan-bahan pembelajaran yang tidak banyak menggunakan bahasa ingris. Pendisain instruksional mungkin perlu menerjemahkan terlebih dahulu kedalam bahasa indonesia.
Contoh lain, jika peserta didik senang dengan lelucon, pendisain instruksional sebaiknya mempertimbangkan penggunaan lelucon dalam strategi instruksionalnya. Bila peseta didik sebagian besar tidak mempunyai vidio di rumah, pendisain instruksional tidak dapat membuat program vidio dan mewajibkan untuk di pelajari peserta didik di rumah. Informasi di atas perlu di cari oleh pendisain instruksional sehingga ia dapat mengembangkan instruksional yang sesuai dengan karakteristik peserta didik tersebut. Karakteristik peserta didik berikut ini perlu di pertimbangkan dalam proses desain instruksional
1.      Motivasi belajar, eksternal aatau internal, sebagai dasar memilih strategi pemberian informasi kepada peserta ddidk.
2.      Akses terhadap sumber belajar yang relavan dengan materi pembelajaran, sebagai landasan untuk menentukan rujukan bahan pembelajaran yang pierlu di pelajari.
3.      Kebiasaan belajar mandiri dan disiplin dalam menatur waktu belajar, untuk di jadikan bahan pertimbangan saat menugaskan pekerjaan-pekerjaan rumah.
4.      Akses terhadap seluruh komunikasi dan media teknologi informasi, untuk dijadikan pertimbangan dalam penggunaan bimbingan secara online.
5.      Kebiasaan dan kemampuan belajar dan berpikir tentang penerapan materi yang di pelajarinya dalam pekerjaan atau kehidupan sehari-hari, sebagai landasan untuk merancang pemberian contoh-contoh praktis sebagai bagian dari presentasi dan uraian.
6.      Domoisili/tempat tinggal bila di ukur dengan jarak tempuh ke pusat kegiatan belajar, untuk di pertimbangkan dan merancang kegiatan belajar tambahan dalam lingkungan pendidikan.

Dalam pembelajaran tatap muka yang di selenggarakan secara klasikal, karakteristik peserta didik selallu heterogen dan karenanya pengajar perlu mempertimbangkanya dalam proses mendesain pembelajaran keheterogenan tersebut meliputi tingkat penguasaan materi pembelajaran dan karakteristik peserta didik.
Teknik yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik awal peserta didik sama dengan teknik yang digunakan dalam mengidentifikasi perilaku awal, yaitu: kuisioner, interviu, observasi, dan tes.
Informasi yang dikumpulkan perlu dibatasi pada karakteristik peserta didik yang berhubungan langsung dengan proses belajarnya sehingga ada manfaat langsung dalam proses desain instruksional.[5]

C.      Latihan
Berikut ini adalah latihan mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal peserta didik.
1.      Kumpilkanlah data kompetensi dasar peserta didik dari orang-orang dekat dan dapat meniali kemampuan populasi sasaran dengan cara:
a.         Tulisalah kembali daftar kompetensi dasar yang telah berhasil anda buat dalam kegiatan analisis intruksional.
b.         Atas dasar data dan informasi tersebut, buatlah skala penilaian sebagai berikut:

No.
Kompetensi Dasar
Amat Baik
Baik
Cukup
Jelek
Amat Jelek
1
2
3
4
5
6
7








k




      Ket:
Kolom 1              = Nomor Urut
Kolom 2              = Kompetensi dasar yang telah dihasilkan dalam analisis instruksional.
Kolom 3 s.d 7      = Skala Penilaian
c.         Berilah petunjuk cara mengisi skala penilaian tersebut dan perbanyak secukupnya.
d.        Berikan skala penilaian tersebut kepada orang-orang yang dekat dan dapat menilai kemampuan populasi sasaran, seperti atasan langsung dan guru mereka.
e.         Kumpulkan hasil isian tersebut.
2.      Kumpulkan data perilaku awal peserta didik dari sampel peserta didik.
a.         Tulislah kembali perilaku khusus yang telah berhasil anda buat dalam analisis intruksional.
b.         Atas dasar perilaku khusu tersebut, butlah skala penilaian dalam bentuk skala likert.
c.         Berilah pedoman cara mengisi skala penilaian tersebut dan perbanyak secukupnya.
d.        Berikan skala penilaian tersebut kepada sejumlah peserta didik yang dapat mewakili populasi sasaran.
e.         Kumpulkan hasil isian tersebut.
3.      Kumpulkan data perilaku awal peserta didik dengan menggunakan observasi dan tes. Dibandingkan dengan dua cara mengumpulkandat perilaku peserta didik yang telah dikemukakan sebelumnya, observasi dan tes adalah cara yang lebih mantap, karna dapat mengumpulkan data yang lebih keras.
4.      Kumpulkanlah data karakteristik awal peserta didik dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Buatlah daftar pertanyaanatau kuesioner tentang karakteristik lain sebagai berikut:
1)      Tempat kelahiran dan tempat dibesarkan.
2)      Pekerjaan atau bidang pengetahuan yang menjadi keahlianya atau dicita-citakan untuk menjadi keahlianya.
3)      Kesenangan
4)      Bahasa sehari-hari dan bahasa asing yang dikuasai
5)      Alat-alat audio-visual yang dimiliki di rumah atau biasa digunakan sehari-hari.
6)      Dan lain-lain yang dianggap penting pengembangan desain intruksional.
b.      Berikanlah kuesioner tersebut kepada sejumlah sampel yang dapat mewakili populasi sasran
c.       Kumpulkan hasilnya.
5.      Analisislah hasil pengumpulan data butir 1 dan 2 atau butir 3 saja untuk menentukan perilaku awal yang telah dikuasai populasi sasaran.
6.      Buatlah garis batas antara kedua kelompok perilaku tersebut pada hasil analisis instruksional untuk mennjukkan dua hal sebagai berikut:
a.         Perilaku-perilaku yang ada di bawah garis batas adalah perilaku yang telah dikuasai oleh populasi sasaran sampai tingkat cukup dan baik.
b.         Perilaku-perilaku yang ada diatas garis batas adalah perilaku yang belum dikuasai oleh populasi sasaran atau baru dikasai sampai tingkat sedang, kurang, dan buruk.
7.      Susunlah urutan perilaku yang ada diatas garis batas untuk dijadikan pedoman dalam menentukan urutan materi pelajaran.
8.      Tafsirkanlah data tentang karakteristik peserta didik untuk menggambarkan hal sebgai berikut:
a.         Lingkungan budaya;
b.         Pekerjaan atau bidang pengetahuan yang menjadi bidang keahlian;
c.         Kesenangan ;
d.        Bahasa ang dikuasai;
e.         Alat audio-visual yang dimiliki atau yang biasa digunakan sehari-hari;[6]










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
                Langkah ketiga dalam MPI, yaitu mengidentifikasikan perilaku dan karakteristk awal peserta didik , adalah mengguakan pendekatan menerima peserta didik apa adanya dan menyusun sistem instruksional atas dasar keadaan peserta didik tersebut. Karena itu, langkah ketiga MPI merupakan proses untuk mengetahui kompetensi yang dikuasai peserta didik sebelum mengikuti mata pelajaran, bukan untuk menentukan perilaku prasyarat dalam rangka menyeleksi peserta didik sebelum mengikuti pelajaran. Konsekuensi yang digunakan oleh MPI adalah: titik mulai suatu kegiatan instruksional tergantung pada perilaku awal peserta didik.
             Pengetahuan tentang karakteristik awal peserta didik sangat diperlukan dalam menentukan strategi instruksional, khususnya metode instruksional, media & alat, dan bantuan belajar.

















DAFTAR PUSTAKA
Suparman, Atwi. 2012. Desain Instruksional Modern. Jakarta: Erlangga




[1] Atwi Suparman, Desain Instruksiional Modern, (Jakarta: Erlangga, 2012), hlm. 180
[2] Ibid, hlm. 181
[3] Ibid, hlm. 182
[4] Ibid, hlm. 183
[5] Ibid, hlm. 183-184
[6] Ibid, hlm. 185-187

Friday, 20 March 2015

bentuk-bentuk analisis keuangan

C.     Bentuk-bentuk dan Teknik Analisis
Untuk melakukan analisis laporan keuangan diperlukan metode dan teknik analisis yang tepat juga. Tujuan penentuan metode dan teknik analisis yang tepat adalah agar laporan keuangan tersebut dapat memberikan hasil yang maksimal. Selain itu, para pengguna hasil analisis tersebut dapat dengan mudah untuk menginterprestasikannya.
Sebelum melakukan analisis laporan keuangan, diperlukan langkah-langkah atau prosedur tertentu. Langkah atau prosedur ini diperlukan agar urutan proses analisis mudah untuk dilakukan.
Adapun, langkah atau prosedur yang dilakukan dalam analisis keuangan adalah:
1.      Mengumpulkan data keuangan dan data pendukung yang diperlukan selengkap mungkin, baik untuk satu periode maupun beberapa periode.
2.      Melakukan pengukuran-pengukuran atau perhitungan-perhitungan dengan rumus-rumus tertentu, sesuai dengan standar yang bias digunakan secara cermat dan teliti, sehingga hasil yang diperoleh benar-benar tepat.
3.      Melakukan perhitungan dengan memasukkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan secara cermat.
4.      Memberikan interpretasi terhadap perhitungan dan pengukuran yang telah dibuat.
5.      Membuat laporan tentang posisi keuangan perusahaan.
6.      Memberikan rekomendasi yang dibutuhkan sehubungan dengan hasil analisis tersebut.
Dalam praktiknya, terdapat dua macam metode analisis laporan keuangan yang bias dipakai, yaitu sebagai berikut.
1.      Analisis Vertikal (Statis)
Analisis vertical merupakan analisis yang dilakukan terhadap hanya satu periode laporan keuangan saja. Analisis dilakukan antar pos-pos yang ada, dalam satu periode. Informasi yang diperoleh hanya untuk satu periode saja dan tidak diketahui perkembangan dari period eke periode tidak diketahui.

2.      Analisis Horizontal (Dinamis)
Analisis horizontal merupakan analisis yang dilakukan dengan membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode. Dari hasil analisis ini akan terlihat perkembangan perusahaan dari periode yang satu ke periode yang lain.
Kemudian, di samping metode yang digunakan untuk menganalisis laporan keuangan, terdapat beberapa jenis-jenis teknik analisis laporan keuangan. Adapun jenis-jenis teknik analisis laporan keuangan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a.       Analisis perbandingan antara laporan keuangan.
b.      Analisis trend.
c.       Analisis presentase per komponen.
d.      Analisis sumber dan penggunaan dana.
e.       Analisis sumber dan penggunaan kas.
f.        Analisis rasio.
g.       Analisis kredit.
h.       Analisis laba kotor.
i.         Analisis titik pulang pokok atau titik impas (break even point).
Penjelasan masing-masing teknik analisis laporan keuangan sebagai berikut.
Analisis pebandingan antara laporan keuangan merupakan analisis ini dilakukan dengan membandingkan laporan keuangan lebih dari satu periode. Artinya minimal dua periode atau lebih. Dari analisis ini akan diketahui perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan yang terjadi dapat berupa kenaikan atau penurunan dari masing-masing komponen analisis. Dari perubahan ini terlihat masing-masing kemajuan atau kegagalan dalam dalam mencapai target yang telah ditetapkan sebelumnya. Secara umum dari hasil analisis ini akan terlihat antara lain:
a.       Angka-angka dalam rupiah.
b.      Angka-angka dalam presentase.
c.       Kenaikan atau penurunan jumlah rupiah.
d.      Kenaikan atau penurunan baik dalam rupiah maupun dalam presentase.
Analisis trend atau tendensi merupakan analisis laporan keuangan yang biasanya dinyatakan dalam presentase tertentu. Analisis ini dilakukan dari period eke periode sehingga akan terlihat apakah perusahaan mengalami perubahan yaitu naik, turun, atau tetap, serta besar perubahan tersebut yang dihitung dalam presentase.
Analisis presentase per komponen merupakan analisis yang dilakukan untuk membandingkan antara komponen yang ada dalam suatu laporan keuangan, baik yang ada di neraca maupun laporan laba rugi.
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui:
a.       Presentasi investasi terhadap masing-masing aktiva atau terhadap total aktiva.
b.      Struktur permodalan.
c.       Komposisi biaya terhadap penjualan.
Analisis sumber dan penggunaan dana merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui sumber-sumber dana perusahaan dan penggunaan dana dalam suatu periode. Analisis ini juga untuk mengetahui jumlah modal kerja dan sebab-sebab berubahnya modal kerja perusahaan dalam suatu periode.


Thursday, 19 March 2015

IKTERUS FISIOLOGIS

IKTERUS FISIOLOGIS

Ikterus fisiologis
Ø  Pengertian Ikterus Fifiologis
Ikterus adalah perubahan warna kuning pada kulit dan sclera yang terjadi akibat peningkatan kadar bilirubin didalm darah (Fraser,2012).
Ikterus adalah menguningnya sklera, kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh atau akumulasi bilirubin dalam darah lebih dari 5 mg/ml dalam 24 jam, yang menandakan terjadinya gangguan fungsional dari liper, sistem biliary, atau sistem hematologi (Muslihatun, 2010).
Ikterus adalah salah satu keadaan menyerupai penyakit hati yang terdapat pada bayi baru lahir akibat terjadinya hiperbilirubinemia.Ikterus merupakan salah satu kegawatan yang sering terjadi pada bayi baru lahir,sebanyak 25-50% pada bayi cukup bulan dan 80 % pada bayi berat lahir rendah (Dewi,2012).
Ikterus fisiologis (ikterus neonaturum) adalah kondisi munculnya warna kuning di kulit dan selaput mata pada bayi baru lahir karen adanya bilirubin pada kulit dan selaput mata sebagai akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah (Hidayat,2008)
Ikterus pada bayi baru lahir terdapat pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurang bulan. Ikterus pada bayi baru lahir dapat merupakan suatu gejala fisiologis atau patologis, misalnya pada inkomplitibilitas Rhesus dan ABO, sepsis, penyumbatan saluran empedu dan sebagainya (Sarwono, 2010).
Bilirubin adalah roduk sampingan dari pemecahan heme yang sebagian besar ditemukan di sel darah merah.el darah merah yang sudah tua,imatur atau cacat dikeluarkan dari sirkulasi dan dipecahkan di dalam system retikuloendoelial (hati,limpa dan makrofag) dan haemoglobin menjadi produk seknder dari heme globin dan zat besi (Fraser,2012)
Kadar bilirubin dalam serum tali pusat yang beraksi indirek adalah 1-3 mg/dl/24 jam,dengan demikian ikterus dapat dilihat pada hari ke 2 sampai hari 3,biasanya berpuncak antara hari ke 2 dan ke 4 dengan kadar 5-6 mg/dl dan menurun sampai dibawah 2 mg/dl,antara umur ke 5 dan ke 7.Ikterus yang disertai dengan perubahan-perubahan ini disebut fisilogis dan disebabkan karena kenaikan produksi bilirubin pasca pemecahan sel darah merah janin dikombinasi dengan keterbatasan sementara konjugasi bilirubin oleh hati.Secara keseluruhan 6-7% bayi cukup bulan mempunyai kadar bilirubin indirek lebih besar dari 12,9 mg/dL dan kurang dari 3% mempunyai kadar yang lebih besar dari 15 mg/dL.
 Pada bayi prematur kenaikan bilirubin serum cenderung sama atau sedikit lebh lambat dari pada kenaikan bilirubin pada bayi cukup bulan tetapi jangka waktunya lebih lama,yang biasanya mengakibatkan kadar yang lebih tinggi,puncaknya dicapai antara hari ke 4 dan ke 7.Biasanya kadar puncak 8-12 mg/dL tidak dicapai sebelum hari ke 5-ke 7 dan ikterus jarang diamati sesudah hari ke 10 (Wahab,2012).
Ø  Etiologi
  1. Prahepatik (Ikterus hemolitik)
Ikterus ini disebabkan karena produksi bilirubin yang meningkat pada proses hemolisis sel darah merah (ikterus hemolitik).Peningkatan bilirubin dapat disebabkan oleh beberapa faktor,diantaranya adalah infeksi,kelainan sel darah merah dan toksin dari luar tubuh,serta dari tubuh itu sendiri.
  1. Pascahepatik (Obstruktif)
Adanya obstruktif pada saluran empedu yang mengakibatkan bilirubin konjugasi akan kembali lagi ke dalam sel hati dan masuk kedalam aliran darah,sebagian masuk dalam ginjal dan dieksresikan dalam urine.Sementara itu sebagian lagi tertimbun dalam tubuh sehingga kulit dan sclera berwarna kuning kehijauan serta gatal.sebagai akibat dari obstruksi saluran empedu menyebabkan eksresi bilirubin kedalam saluran pencernaan berkurang,sehingga feses akan berwarna putih keabu-abuan,liat dan seperti dempul.
  1. Hepatoseluler(ikterus hepatik)
Konjugasi bilirubin terjadi pada sel hati mengalami kerusakan,maka secara otomatis akan mengganggu proses konjugasi bilirubin sehingga bilirubin direct meningkat dalam aliran darah.Bilirubin direct mudah diekresikan oleh ginjal karena sifatnya yang mudah larut dalam air,namun sebagian masih tertimbun dalam aliran darah
Faktor Resiko
Faktor risiko untuk timbulnya ikterus neonatorum:
  1. Faktor Maternal
a)      Ras atau kelompok etnik tertentu (Asia, Native American,Yunani)
b)      Komplikasi kehamilan (DM, inkompatibilitas ABO dan Rh)
c)      Penggunaan infus oksitosin dalam larutan hipotonik.
  1. Faktor Perinatal
a)      Trauma lahir (sefalhematom, ekimosis)
b)      Infeksi (bakteri, virus, protozoa)

  1. Faktor Neonatus
a)      Prematuritas
b)      Faktor genetik
c)      Polisitemia
d)     Obat (streptomisin, kloramfenikol, benzyl-alkohol, sulfisoxazol)
e)      Rendahnya asupan ASI
f)       Hipoglikemia
g)      Hipoalbuminemia
Ø  Klasifikasi Ikterus
  1. 1.      Ikterus Fisiologis
    1. A.     Pengertian Ikterus fisiologis
Ikterus fisiologis adalah ikterus normal yang dialami oleh bayi baru lahir, tidak mempunyai dasar patologis sehingga tidak berpotensi menjadi kern ikterus.Ikterus ini memiliki tanda-tanda berikut :
  1. Timbul pada hari ke dua dan ketiga setelah bayi lahir
  2. Kadar biliburin Indirect tidak lebih dari 10 mg% pada neonatus cukup bulan dan 12,5 mg% pada neonatus kurang bulan
  3. Kecepatan peningkatan kadar biliburin tidak lebih dari 5 mg% per hari
  4. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama
  5. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis
  6. Kadar bilirubin direct tidak lebih dari 1 mg%
  7. B.     Ikterus Fisiologis Yang Berlebihan Pada Bayi Prematur
Kondisi ini ditandai dengan kadar bilirubin sebesar 165µmol/l (10 mg/dl) atau lebih pada hari ke 3 atau 4 dengan puncak konsentrasi pada hari ke 5 sampai 7 yang kembali ke kadar noermal setelah bebrapa minggu.Bayi premature berisiko lebih tinggi untuk mengalami kern ikterus.Faktor penunjangnya antara lain :
  1. Keterlambatan ekspresi enzim UPD-GT
  2. Waktu hidup sel darah merah yang lebih singkat
  3. Komplikasi seperti hipoksia,asidosis dan hipotermia yang dapat mengganggu kemamuan mengikat albumin


Ø  Ikterus Patologis
Ikterus patologis Adalah Ikterus yang mempunyai dasar patologis dengan kadar bilirubin mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Ikterus patologis memiliki tanda-tanda berikut:
  1. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama
  2. Kadar bilirubin melebihi 10mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5 mg% pada neonatus cukup bulan
  3. Peningkatan bilirubin melebihi 5 mg per hari
  4. Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama
  5. Kadar bilirubin direct lebih dari 1 mg %
  6. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik
Ø  Ikterus hemolitik
Yang berat umumnya merupakan suatu golongan penyakit yang disebut eritroblastosis etalis atau morbus hemolitikus neonaturum,penyakit hemolitik ini biasanya disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah ibu dan bayi.
a)            Inkompatibilitas Rhesus
Sangat jarang di Indonesia karna sering terjadi di negara bagian barat karna 15 % penduduknya memiliki golongan darah rhesus negatif.Bayi Rh positif dari ibu Rh negatif tidak selamanya menunjukkan gejala-gejala klinik pada waktu lahir  (15-20%).Gejala klinik yang dapat terlihat adalah ikterus yang timbul pada hari pertama dan semakin lama semakin berat disertai anemia yang berat pula.Bila sebelum kelahiran terdapat hemolisis berat maka bayi lahir dengan oedema umum disertai ikterus dan pembesaran hepar. Terapi yang ditujukan adalah dengan memperbaiki anemia dan mengeluarkan bilirubin yang berlebih dalam serum agar tak menjadi kern ikterus.
b)           Inkompatibilitas ABO
Isoimunisasi ABO biasanya terjadi saat ibu memiliki golongan darah O dan bayi memiliki golongan darah A atau lebih jarang dijumpai bayi memiliki golongan darah B.Inkompatibilitas ABO juga diduga melindungi janin dari inkomptabilitas Rh karena antibodi A  dan anti-B ibu menghancurkan setiap sel janin yang bocor ke dalam sirkulasi maternal.Akibat hemoloisis inkompatibilitas golongan darah ABO.Ikterus dapat terjadi pada hari pertama dan kedua dan bersifat ringan.Bayi tidak terlihat sakit,anemia ringan dan hepar.Ikterus dapat menghilang dalam beberapa hari.Kalau hemolisisnya berat seringkali dilakukan transfusi tukar darah untuk mencegah kern ikterus.Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan kadar bilirubin serum sewaktu-waktu.



Tujuan Terapi antara lain :
  1. Mencegah hemolisis lebih lanjut
  2. Mengurangi kadar bilirubin
  3. Mencegah anemia
c)      Penyakit hemolitik karana kelainan eritrosit konginetal
Golongan penyakit ini dapat menimbulkan gambaran klinik yang menyerupai erotroblastosis fetalis akibat iso-imunisasi.Pada penyakit ini biasanya coombs test biasanya negative.Beberapa penyakit lain yang termasuk disini adalah sterositosis kongenital,anemia sel sabit,eliptositosis herediter
Ø  Ikterus Obstruktiva
Obstruksi dalam penyaluran empedu dapat terjadi didalam hepar dan diluar hepar,akibat obstruksi maka terjadi penumpukan bilirubin tidak langsung,bila kadarnya melebihi 1 mg% maka dicurigai menyebabkan obstruksi misalnya pada sepsis,hepatitis neonaturum,pielnefritis,obstruksi saluran empedu.Penyakit lain yang dapat menyebabkan ikterus obstruktiva adalah atresia biliaris ekstraheptika,kista duktus koledokus,fibrosis kistik pancreas,kelainan-kelainan duodenum adanya pankreas yang menghalangi pengeluaran bilirubin dalam air kencing dan tinja.
Ø  Penilaian Ikterus
Pengamatan ikterus paling baik dilakukan dalam cahaya matahari dan dengan menekan sedikit kulit yang akan diamati untuk menghilangkan warna karena pengaruh sirkulasi darah.Ada beberapa cara untuk menentukan derajat ikterus yang merupakan resiko terjadinya kern ikterus.