Friday, 22 September 2017

Upah Dalam Islam

Upah Dalam Islam
1.      Pengertian dan Landasan Hukum Upah
Istilah “upah” dapat digunakan dalam pengertian sempit maupun luas. Dalam arti luas, istilah itu bearti pembayaran yang diberikan sebagai imbalan untuk jasa tenaga kerja. Dalam arti sempit, upah dapat didefinisikan sebagai sejumlah uang yang dibayarkan oleh majikan kepada pekerjanya untuk jasa yang dia berikan.[1]
Upah mengacu pada penghasilan tenaga kerja. Upah dapat kita pandang dari dua segi yaitu moneter dan yang bukan moneter. Jumlah uang yang diperoleh seorang pekerja selama jangka waktu mengacu pada nominal tenaga kerja.[2]
Menurut Profesor Benham sebagaimana dikutip oleh Afzalur Rahman upah dapat didefinisikan dengan sejumlah uang dibayar oleh orang yang memberikan pekerjaan kepada seseorang pekerja atas jasanya sesuai perjanjian.[3]
Menurut Sadono Sukirno, upah yaitu pembayaran atas jasa-jasa fisik maupun mental yang disediakan oleh tenaga kerja kepada para pengusaha tidak dibeda-bedakan antara pembayaran keatas jasa-jasa pekerja kasar dan tidak tetap.[4]
Upah disebut juga Ujrah dalam islam. Upah dalam bentuk kompensasi atas jasa yang telah diberikan kepada tenaga kerja.[5]
Masalah upah dalam Al-Qur’an sangat diperhatikan. Al-Qur’an memerintahkan agar seorang pengusaha atau majikan membayarkan upah kepada orang yang bekerja padanya dan telah menyelesaikan pekerjaannya tersebut. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa memberikan upah kepada seseorang yang telah selesai bekerja hukumnya adalah wajib. Para ulama menjelaskan tentang penyegeraan pekerjaanya tersebut selesai, maka ia berhak mendapat upahnya setelah pekerjaan tersebut selesai.[6]
Beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa upah adalah suatu imbalan sebagai pembalasan jasa terhadap jasa orang lain yang biasanya dinyatakan dalam bentuk uang, berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak yaitu buruh dan pengusaha.
Para ulama mendefinisikan tentang upah ini secara berbeda-beda, definisi tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Menurut Hanafiah bahwa upah adalah:
عَقْدٌ عَلَى الْمَنَا فِعِ بِعَوْ ضٍ
Artinya: “Akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti”[7]
2)      Menurut Asy-Syafi’iyah Upah adalah:
عَقْدُ عَلَى مَنْفَعَةٍ مَقْصُوْ دَةٍ مَعْلُوْ مَةٍ مُبَاحَةٍ قَا بِلَةٍ لِلْبَذْ لِ وَالْأِ بَا بِعَوْضٍ مَعْلُوْمِ
Artinya: “Akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah, serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu.”[8]
3)      Menurut Malikiyah dan Hanabilah
تَمْلِيْكُ مَنَا فِعِ شَيْئٍ مُبَا حَةٍ مُدَّةً مَعْلُوْ مَةً بِعَوْضٍ
Artinya: “Menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mudah dalam waktu tertentu dengan pengganti.”[9]
Dari beberapa definisi tentang upah di atas maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian upah adalah suatu imbalan atas balas jasa yang dilakukan oleh orang yang mempekerjakan (majikan atau pengusaha) dengan orang yang bekerja, yang biasanya balas jasa  tersebut dinyatakan dengan uang berdasarkan atas kesepakan antara kedua belah pihak sesuai dengan Islam.
Para ulama Fiqih menyatakan bahwa yang menjadi dasar dibolehkannya upah adalah:[10] 
1)      Al-Qur’an
Firman Allah SWT ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-baqarah 279:
 “…Kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya…” (Al-Baqarah : 279)[11]
Ayat di atas memberikan penegasan bahwa dalam perjanjian (tentang upah) kedua belah pihak diperingatkan untuk bersikap jujur dan adil dalam semua urusan mereka, sehingga tidak terjadi tindakan aniaya terhadap orang lain juga tidak merugikan kepentingannya sendiri.
Q.S. Al-Ahqaaf ayat 19:
Artinya : “Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.[12]
2)      As-Sunnah
a)      Upah disebutkan sebelum pekerjaan di mulai
Rasulullah SAW memberikan contoh yang harus dijalankan kaum muslimin setelahnya, yakni penentuan upah para pekerja sebelum mereka mulai menjalankan pekerjaannya. Rasulullah SAW bersabda:
وَعَنْ أَبِى سَعِيْدِالْخُدْرِى رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنِ اسْتَأْجَرَأَجِيْرًافَلْيُسَمَّ لَهُ أُجْرَتَهُ)رَوَاهُ عَبْدُالْرزاق وَفِيْهِ انْقِطَاعٌ , وَوَصَلَهُ الْبَيْهَقِى , مِنْ طَرِيْقِ أَبِى حَنِيْفَةَ .
Artinya: Dari Abi Said al Khudri ra. sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Barang siapa mempekerjakan seorang pekerja, maka harus disebutkan upahnya” (H.R. Abdur Razak sanadnya terputus, dan al Baihaqi menyambungkan sanadnya dari arah Abi Hanifah).[13]
Dalam hadits tersebut Rasulullah telah memberikan petunjuk, supaya majikan terlebih dahulu memberikan informasi tentang besarnya upah yang akan diterima oleh pekerja sebelum ia mulai melakukan pekerjaannya. Dengan adanya informasi besaran upah yang diterima, diharapkan dapat memberikan dorongan semangat untuk bekerja serta memberikan kenyamanan dalam pekerjaan. Mereka akan menjalankan pekerjaan sesuai dengan kesepakatan kontrak kerja dengan majikan.
b)      Membayar upah sebelum keringatnya kering
Hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, Rasulullah SAW, Bersabda:
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَرَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (أُعْطُوْاالأَجِيْرَأَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَهْ . وَفِى الْبَابِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَظِىَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ أَبِى يَعْلَى وَالْبَيْهَقِى ,وَجَابِرٍ عِنْدَالطَبْرَانِى , وَكُلُّهَاظِعَافٌ .
 Artinya : Dari Ibnu Umar ra. Berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Berikanlah upah sebelum keringat pekerja itu kering.” (H.R. Ibnu Majjah). Dan pada bab ini hadis dari Abi Hurairah ra. Menurut Abi Ya’la dan Baihaqi, dan hadis dari Jabir menurut Tabrani semuanya Dhaif.[14]
Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa buruh itu telah melaksanakan atau menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan kepadanya, maka pengusaha wajib membayarkan upahnya sebelum keringat yang mengucur itu kering.
Ketentuan tersebut untuk menghilangkan keraguan pekerja atau kekhawatirannya bahwa upah mereka akan dibayarkan, atau akan mengalami keterlambatan tanpa adanya alasan yang dibenarkan. Namun, umat Islam diberikan kebebasan untuk menentukan waktu pembayaran upah sesuai dengan kesepakatan antara pekerja dengan yang memperkerjakan.
Dalam kandungan dari kedua hadist tersebut sangatlah jelas dalam memberikan gambaran bahwa jika mempekerjaan seorang pekerja hendaklah dijelaskan terlebih dahulu upah yang akan diterimanya dan membayarkan upahnya sebelum keringat pekerja kering. Sehingga kedua belah pihak sama-sama mengerti atau tidak merasa akan dirugikan.



[1] Muhammad Sharif Chaudhry, SISTEM EKONOMI ISLAM: Prinsip Dasar, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 197
[2] M. Abdul Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1997), h. 116
[3] Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam jilid 2, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995), h. 361
[4] Sadono Sukirno, Pengantar Teori Mikro Ekonomi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 354
[5]Rachmat Syafe’I, Fiqih Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), h.121
[6]Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, (Jakarta : Gema Insani Pers, 1997), h. 104
[7]Rachmat Syafe’I, Fiqih Muamalah, h. 122
[8]Ibid., h. 121
[9]Ibid.
[10]Ibid., h. 123
[11] QS. Al-Baqarah : 279
[12] Q.S. Al- Ahqaaf: 19
[13] Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Ashqolani, Bulughul Maram, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992), h. 515-516
[14] Ibid, h. 515

Tuesday, 20 October 2015

my editore




Cerpen Sosial

mengapa kau merasa kesepian? padahal banyak keramaian didunia ini.
itu menjadi banyak pertanyaan bagi setiap insan, karenanya mereka dari situ belum mempelajari tentang penguasaan diri dan pengendalian diri ubtuk bisa meramaikan suasana hatinya.
hati yang sepi itu bisa diakibatkan karena beberapa faktor, seperti :
1. cinta
2. kawan
3. sahabat
4. uang
5. pekerjaan
6. ibadah
karena hal semuanya itu, bisa membuat semua orang merasa dirinya merasa kesepian. so kapan hatimu akan menjadi ramai? "lakukan lah analisis terhadap diri sendiri dan bacalah dirimu sendiri dari beberapa kejadian di atas itu yang membuat hatimu merasa sepi. bisa dicoba, jika kalian menganalisis diri sendiri itu, maka dari situ lah kalian akan dapat berintrospeksi diri dan menjadi meramaikan hari dan hatimu kembali..

oke sekian dari saya, trima kasih bagi pembaca...

Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an abad XIV H

Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an abad XIV H

Setelah memasuki abad XIV H, bangkitlah kembali perhatian ulama dalam penyusunan kitab-kitab yang membahas Al-Qur’an dari berbagai segi. Kebangkitan ini dipicu oleh kegiatan ilmiah di Universitas Al-Azhar Mesir, terutama ketika universitas ini membuka jurusan-jurusan bidang studi yang menjadikan tafsir dan hadis sebagai salah satu jurusannya.
Ada sedikit pengembangan yang dihasilkan para ulama abad ini dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya. Pengembangan itu diantaranya penerjemahan A-Qur’an ke dalam bahasa-bahasa Ajam. Pada abad ini, perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an diwarnai oleh usaha-usaha menebarkan keraguan diseputar Al-Qur’an yang dilakukan oleh kalangan orientalis atau oleh orang Islam sendiri yang dipengaruhi oleh orientalis. Salah satunya adalah Thaha Husein dalam karyanya Asy-Syi’ri Al-Jahili. Di dalam karya itu, Husein menebarkan berbagai keraguan di seputar Al-Qur’an. Bantahan terhadapnya telah dilakukan oleh Ustadz Syekh Muhammad Al-Khidr Husein, salah seorang Syekh Al-Azhar.

Karya-karya ‘Ulum Al-Qur’an yang lahir pada abad ini adalah :
1.      Syekh Thahir Al-Jazairi yang menyusun kitab At-Tibyan fi ‘Ulum Al-Qur’an yang selesai pada tahun 1335 H.
2.      Jamaluddin Al-Qasimy (w. 1332 H.) yang menyusun kitab Mahasin Al-Ta’wil. Juz pertama kitab ini dikhususkan untuk pembicaraan Ulum Al-Qur’an.
3.      Muhammad ‘Abd Al-‘Azhim Az-Zarqani yang menyusun kitab Manahil Al-‘Irfan fi ‘Ulum Al-Qur’an (2 jilid).
4.      Muhammad ‘Ali salamah yang menyusun kitab Manhaj Al-Furqan fi ‘Ulum Al-Qur’an.
5.      Syeikh Tanthawi Jauhari yang menyusun kitab Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an dan Al-Qur’an wa ‘Ulum ‘Ashriyyah.
6.      Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i yang menyusun kitab I’jaz Al-Qur’an.
7.      Ustadz Sayyid Quthub yang menyusun kitab At-Tashwir Al-Fani fi Al-Qur’an.
8.      Ustadz Malik bin Nabi yang menyusun kitab Az-Zhahirah Al-Quraniyah. Kitab ini sangat penting dan banyak berbicara mengenai wahyu.
9.      Sayyid Imam Muhammad Rasyid Ridha yang menyusun kitab Tafsir Al-Quran Al-Hakim yang terkenal dengan nama Tafsir Al-Manar. Didalamnya banyak juga penjelasan tentang ‘Ulum Al-Qur’an.
10.  Syekh Muhammad ‘Abdullah Darraz yang menyusun kitab An-Naba’ Al-‘Azhim ‘an- Al-Qur’an Al-Karim: Nazharat Jadidah fi Al-Quran.
11.  DR. Subhi As-Salih, Guru Besar Islamic Studies dan Fiqhu Lugah pada Fakultas Adab Universitas Libanon, yang menyusun kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an. Kitab ini selain membahas ‘Ulum Al-Quran, juga menanggapi secara ilmiah pendapat-pendapat orientalis yang dipandang salah mengenai berbagai masalah yang berhubungan dengan Al-Qur’an.
12.  Syekh Mahmud Abu Daqiqi yang menyusun kitab ‘Ulum Al-Qur’an.
13.  Syekh Muhammad ‘Ali Salamah, yang menyusun kitab Manhaj Al-Furqan fi ‘Ulum Al-Qur’an.
14.  Ustadz Muhammad Al-Mubarak yang menyusun kitab Al-Manhal Al-Khalid.
15.  Muhammad Al-Ghazali yang menyusun kitab Nazharat fi Al-Qur’an.
16.  Syekh Muhammad Musthafa Al-Maraghi yang menyusun sebuah risalah yang menerangkan kebolehan kita menerjemahkan Al-Qur’an. Ia pun menulis kitab Tafsir  Al-Maraghi.



Tuesday, 30 June 2015

Puisi Berantai

Tema Puisi A : Perjuangan.
Tema Puisi B : Percintaan.
Tema Puisi C : Kemerdekaan.

A. Seuntai sajak perjuangan buat
generasiku
B. Seuntai sajak ASMARA buat
kekasihku
C. Seuntai sajak KEHIDUPAN TERNAK
AYAMKU A. Pd pertengahan agustus 45
Kami bangkit merebut Kemerdekaan
Kami siramkan DARAH PERJUANGAN
Tapi aku masih BERBARING diatas…
B. Kekasihku
Aku tak meyangka engkau begitu tega melakukan itu
Kau putuskan cintaku uang suci
Ingin rasanya aku melumat kembali…….
C. Panatat ayamku
Kini tampak membesar
Sebentar lagi telur akan keluar lewat… A. Celah – celah benteng perjuangan
Akan ku hancurkan penjajah
Aku muak , aku benci kekerasan
Dan ingin rasanya kubunuh… C. Ayamku ………
B. Kau sia siakan cintaku Dulu kala cinta kita bersemi
Kau merengkuh dalam dekapanku
Dan kini……….. A. Hanya tinggal setetes darah
Tapi aku masih berdiri kokoh
Kutantang seribu penjajah
Dengan sebilah pedang pedang dikananku
Seujung keris dikiriku
Aku hancurkan …………… B. Surat cinta yang kau kirim dulu
Kini masih tersimpan dibuku diary
Kubiarkan semua kenangan
Tapi aku tak mampu mengeluarkan
………….
C. Telur –telur ayamku Yang besar – besar
Sebentar lagi menetas……..
Dan aku akan bayak mempunyai
A. Mayat –mayat yang trbujur kaku
Dengan penuh luka didada
Kalau maut mengancamku Aku takan berpaling dari……….
B. Matamu
Yang besar bagai bola bekel
Tapi kini hanya tinggal…………
C. Bulu ayamku
Tumbuh satu persatu Kini kulihat membesar
Oh …..betapa bahagia hatiku
Ayamku …………
A. Kubunuh kau …
kau penghianat….
Aku pimpin laskar perjuangan Takan gentar oleh seribu…….
B. Bayangan cintamu yang biru
Dan kini kau berpaling dari………
C. Kotoran ayamku
Yang menyebarkan aroma jingga
Aku peternak ayam setiap hari kujual ayamku di…….
A. Medan perang …
Darah membasahi bumi pertiwi
Tempat Pahlawan membela negerinya
Demi kemerdekaan ……..
B. Cintaku Pada seorang yang bergayut dihatiku
Tapi kandas ditengah jalan
Hingga terbayang …………..
C. Tai ayamku
Keras seperti…….
A. Dada ku Kau tusuk..
Walau maut akan …..
B. Mencari cintaku….
Dulu begitu pasrah dalam rengkuhanku
Kau hanya mendekap…..
C. Ayamku Begitu besar jasamu padaku
Kau merubah hidupku dari kemiskinan
menjadi…
A. Keberingasan
Dalam membunuh musuh
Aku berteriak lantang dengan menggenggam ………
B. Sepucuk surat cinta…
Kini hanya kenangan
Aku tak mudah melupakan kala kita
sama-sama………..
C. Bertelur Ayamku kini bertelur lagi
Kuperhatikan telurmu keluar dari…….
A. Moncong senapan musuh
Dan kulihat panser musuh
Yang mulai mengeluarkan …………..
B. Janji tuk sehidup semati… Bulan bintang menjadi saksi cinta kita
Kasih kala ku menatap mu
Daku teringat
C. Pantat ayamku….
Akankah kau mengeluarkan……
A. Aku… Berdiri diantara erangan dan rintihan…
Kudengar diantara….
B. Kidung asmara
Gamelan cinta bertalu talu
Diantara dua hati menyatu..
Kasih.., kau hanya memberikan sebagian ….
C. Telur-telurmu
Satu demi satu dan….
A. Meledak ……
Dorrrrrrrrrrrrrr!!!!!!!!!!!!!!!!
Tapi aku masih berdiri menantang Kugenggam bambu runcing bertahtah
merah putih….
Aku bermandikan darah perjuangan
Namun aku tak menyangka…
B. Kau jual murah cintamu
Lalu kau berpaling dariku Kau anggap hina diriku
Walau diriku tak mapu…..
C. Beranak lagi
Sudah sekian lama telurmu menetas lagi
Ayamku aku harap kau………….
A. Kenang kenanglah kami Yang tinggal tulang diperut bumi
Kami berbaring diantara…..
B. Cinta dan dusta
Berbaur jadi Satu
Kurelakan kau pergi dariku
Dan aku hanya berkata…..
C. Ayamku
Bertelur lagi buatku
Semakin bayak telurmu
Hatiku semakin senang
Karena hanya engkau yang mampu…….
A. Membunuh musuh musuhku Sambil memegang ujung tombak
Aku berteriak……
B. Sayang………
Biar kau baca puisi puisiku
Sekalipun cinta kita telah……..
C. Kujual dipasar… Dan kini tinggal ayamku yang masih kecil
Bermain dengan lucunya….
Betapa senang hatiku melihat…..
A. Darah yang berceceran
Kubiarkan merah putih menjulang
diangkasa Pertanda perjuangan mencapai puncak…..
B. Asmaraku
Dulu tumbuh bersemi
Kini layu ditrpa panas cintamu
Kasih…, kudo’akan kamu…..
C. Dimakan ayam Hinga kini tumbuh membesar dan
menjadi…..
A. Pahlawan, dalam berjuang demi
bangsanya
Sungguh besar jasamu…ooooohh………
B. Kekasihku Biar aku sendiri menatap masa depan
untuk…
C. Bertelur sebanyak mungkin
Hingga kau banyak mempunyai….
A. Pejuang kemerdekaan tanah air
kita Dan aku harus berhasil jadi salah satu
orang yang….
B. Berhasil dalam bercinta…
Tapi kau selalu menghindar bila kutatap
wajahmu
Dan kau selalu….
C. Menyodorkan pantatmu
Yang siap bertelur
Kau sibuk mencari tempat untuk …………..
A. Membunuh musuh
Aku pertaruhkan nyawaku
Karena aku pahlawan…..
B. Yang menderita karena Cinta
Kasih ….,sebagai tanda perpisahan
Ingin rasanya
Aku memandangmu dalam dalam,
dan……………
C. Kukeluarkan telur telurmu Aku sangat bahagia walau hanya sekejap
melihatnya
Ingin rasanya telur itu…………….
A. Kutusuk dengan sebilah pedang
Sambil aku berteriak ………………
B. Cintaku kandas ditengah jalan…. Hingga akhirnya…………
C. Dierami oleh induknya
Ooooooooohhhh ….,ayamku
seandainya……..
B. CINTA DITOLAK DUKUN
BERTINDAK………..
A. TIDAAAAAAAKKKK………..TIIIIIIDAKKKKKK
Itu Tidak Mungkin… . Biar kau pergi bersama yang lain Aku akan BERKATA A,B dan C :
MERDEKA………………!!!!!!!!!!!!


Fungsi Operasional dari Manajemen

FUNGSI OPERASIONAL DARI MANAJEMEN
     
                Pada pelaksanaannya, fungsi-fungsi manajemen yang di jalankan menurut tahapan tertentu akan sangat berbeda-beda jika di dasarkan pada fungsi operasionalnya.
Secara operasional, fungsi perencana’an (planning) untuk sumber daya manusia akan sangat berbeda dengan fungsi perencanaan untuk sumber daya fisik/alam atau untuk keuangan.
Demikian juga akan berbeda jika dilihat dalam fungsi pengorganisasiannya, pengarahannya,
hingga pengawasannya. Belum lagi jika dilihat dari jenis organisasinya,
fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan bagi organisasi politik
akan berbeda dengan organisasi bisnis maupun organisasi sosial. Karena buku ini ditujukan
terutama untuk organisasi bisnis, maka akan dibatasi pembahasannya lebih pada organisasi bisnis. Berdasarkan operasionalisasinya, maka manajemen organisasi bisnis dapat dibedakan secara garis besar menjadi fungsi-fungsi sebagai berikut:

·         Manajemen Sumber Daya Manusia
·         Manajemen Produksi
·         Manajemen Pemasaran
·         Manajemen Keuangan


MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

          Manajemen sumber daya manusia adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia yang terbaik tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah. Jika kita berbisnis sablon misalnya, maka sumber daya manusia yang terbaik adalah mereka yang memiliki keahlian dalam menyablon dengan cepat, rapi, namun ditunjang pula oleh kreativitas dan jiwa seni yang dimliki.
Jika kita berbisnis restoran, maka sumber daya manusia yang kita perlukan diantaranya adalah mereka yang memliki keahlian memasak untuk bagian dapurnya, serta keahlian pembuukuan dan akuntansi untuk bagian keuangannya.

MANAJEMEN PRODUKSI
Manajemen produksi adala penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan keinginan konsumen, dengan teknik produksi yang seefisien mungkin. Kegiatan produksi pada dasarnya merupakan proses bagaimana sumberdaya input dapat diubah menjadi produk output berupa barang atau jasa. Untuk kasus bisnis sablon, manajemen produksi mencakup bagaimana bahan-bahan baku, proses penyablonan, hingga penyelesaian produk sablon dapat dilakukan secara efisien namun tetap tercapai kualitas produknya sesuai dengna standar yang telah ditetapkan. Bahan termasuk didalam kegiatan menejemen produksi adalah pemilihan lokasi produksi yang tepat, layout kegiatan produksi, hingga lokasi penyimpanan hasil produksi dan lain sebagainya.

Manajemen pemasaran
Manajemen pemasaran adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen, dan bagaimana cara pemenuhannya dapat di wujudkan. Untuk dapat mengindentifikasi apa yang di butuhkan konsumen, maka pebisnis perlu melakukan riset pemasaran, diantranya berupa survei tentang keinginan konsumen, sehingga pebisnis bisa mendapatkan infomasi mengenai apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh konsumen. Informasi mengenai kebutuhan konsumen ini kemudian di teruskan ke bagaian produksi untuk dapat di wujudkan.   output produk terwujud, maka manajemen pemasaran kemudian juga melakukan kegiatan dalam proses penyampaiaan produk kepada konsumen. Untuk kasusu bisnis sablon, yang termasuk di dalam kegiatan manajemen pemasaran adalah diiantaranya melakukan identifikasi jenis sablon apa yang saat ini sedang diminati oleh konsumen, apaka sudah ada pebisnis sablon yang memenuhi minat konsumen tersebut, berapa kemampuan daya belinya, bagaimana agar perusahaan kita atau bisnis kita dapat menjawab keinginaan dan minat konsumen tersebut, termasuk dalam kegiatan ini adalah proses menjual (selling) akan produk yang sudah di hasilkan tadi.

Manajemen keuangan
Manajemen keuangan adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara ekonomis, yaitu diukur berdasarkan profit. Tugas manajemen keuangan, diantaranya merencanakan dari mana pembiayaan bisnis diperoleh, dan dengan cara bagaimana modal yang telah diproleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang dijalankan. Termasuk kedalam kegiatan manajemen keuangan adalah bagaimana agar dapat dipastikan hasil alokasi modal yang dipergunakan untuk penjualan produk dapat selalu melebihi dari segala baya yang telah dikeluarkan, sebagai sebuah indikator pencapaian profit perusahaan.

Manajemen Informasai
Manajemen Informasi adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tetap mampu untuk terus bertahan dalam jangka panjang. Untuk memastikan itu manajemen informasi bertugas untk menyediakan seluruh informasi yang terkait dengan kegiatan perusahaan baik informasi internal maupun eksternal, yang dapat mendorong kegiatan bisnis yang dijalankan tetap mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dimasyarakat. Penggunaan teknologi informasi, diantaranya komputer, televisi dan radio, mempermudah manajemen informasi dalam hal perencanaan, pengerjaan, dan penyediaan informasi bisnis yang diperlukan dari waktu ke waktu.
Untuk lebih mengetahui fungsi-fungsi operasional dari manajemen, khususnya dalam sebuah organisasi bisnis, penulis menganjurkan pembaca agar memperdalamnya melalui kajian lebih lanjut dalam literatur-literatur mengenai kegiatan bisnis, pengantar bisnis, ataupun lebih spesifik buku-buku mengenai masing-masing fungsi operasional dari manajemen tersebut, apakah manajemen keuangan, sumber daya manusia, manajemen informasi, manajemen produksi, maupun manajemen pemasaran.




Friday, 26 June 2015

Kisah Asal Usul Sunan Bonang

Kisah Asal Usul Sunan Bonang
Nama asli sunan bonang adalah raden makhdum ibrahim. ia merupakan putra sunan ampel dan dewi candrawati yang sering disebut nyai ageng manila. Sejak kecil, ia sudah diberi pelajaran agama islam secara tekun dan disiplin oleh ayahnya yang juga seorang anggota wali sanga. Dan, ini sudah bukan lagi rahasia lagi bahwa latihan para wali lebih berat dari pada orang biaya pada umumnya. Ia adalah calon wali terkemuka, maka Sunan Ampel mempersiapkan pendidikan sebaik mungkin sejak dini.
Cerita sunan bonang, Suatu hari disebutkan bahwa raden makdum ibrahim dan raden paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama islam hingga ke tanah seberang, yaitu negeri pasai, aceh. Keduanya menambah pengetahuan kepada ayah kandung sunan giriyang bernama Syekh maulana ishaq. Mereka juga belajar kepada para ulama besar yang menetap di negeri pasai, seperti para ulama tasawuf yang berasal dari baghdad, mesir, arab, persia atau iran.
Raden makdum ibrahim dan raden paku pulang ke jawa setelah belajar di negeri pasai. Raden paku kembali kembali ke gresik dengan mendirikan pesantren di giri sehingga terkenal sebagai sunan giri. Sementara itu, raden makdum ibrahim diperintahkan sunan ampel untuk berdakwah di Tuban. Dalam berdakwah, ia sering mempergunakan kesenian tradisional untuk menarik simpati rakyat, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut bonang”

SUNAN BONANG DAN AJARAN TASAWUFNYA
Di antara teks-teks Islam tarawal dalam sejarah sastra Jawa terdapat untaian puisi-puisi mistikal (suluk) karya Sunan Bonang, seorang wali sufi terkemuka di pulau Jawa yang tinggal di Tuban, Jawa Timur. Selain sejumlah suluk, Sunan Bonang juga meninggalkan karya penting yaitu risalah tasawuf yang oleh Drewes diberi judul Admonitions of She Bari. Sunan Bonang  lahir pada pertengahan abad ke-15 M dan wafat pada awal abad ke-16, sekitar tahun 1526 atau 1530 M (De Graff 1985:55). Dia adalah ulama yang mumpuni pada zamannya, juga seorang ahli falak,  musikus dan tentu saja sastrawan. Karua-karyanya memperlihatkan bahwa dia menguasai bahasa dan sastra Arab di samping Persia, Jawa Kuna dan Melayu.
Namanya semula ialah Makhdum Ibrahim. Dalam suluk-suluknya dia memakai beberapa nama julukan seperti  Ibrahim Asmara, Ratu Wahdat, Sultan Khalifah dan lain-lain (Hussein Djajadiningrat 1913; Purbatjaraka 1938; Drewes 1969). Nama Bonang diambil dari nama desa tempat dia  mendirikan pesujudan dan pesantren, yaitu Bonang. Desa itu tidak jauh dari kota Rembang dan Lasem di perbatasan antara propinsi Jawa Tengah dan  Jawa Timur sekarang ini.
Sejak muda Makhdum Ibrahim adalah seorang pelajar yang tekun dan muballigh yang handal. Setelah mempelajari bahasa Arab dan Melayu, serta berbagai cabang ilmu agama yang penting seperti fiqih, usuluddin, tafsir Qur’an, hadis dan tasawuf; bersama saudaranya Sunan Giri dia pergi ke Mekkah dengan singgah terlebih dahulu di Malaka, kemudian ke Pasai. Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) mencatat  kunjungan Sunan Bonang dan Sunan Giri ke Malaka sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasai. Sepulang dari Mekkah, dia  ditugaskan oleh ayahnya ntuk memimpin masjid Singkal, Daha di Kediri (Kalamwadi 1990:26-30). .
Pada tahun 1498 M Sultan Demak Raden Patah mempercayakan kepada Sunan Bonang  untuk menjadi imam Mesjid Agung Demak. Dalam tugasnya itu dia dibantu oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo dan wali yang lain. Di bawah pimpinannya masjid Demak segera berkembang menjadi pusat keagamaan dan kebudayaan terkemuka di pulau Jawa. Tetapi beberapa tahun kemudian, dia berselisih pandangan dengan Sultan Demak dan memutuskan untuk mngundurkan diri dari jabatannya  sebagai imam masjid agung. Dari Demak Sunan Bonang pindah ke Lasem, dan memilih desa Bonang sebagai tempat kegiatannya yang baru. Di sini dia mendidirikan pesujudan dan pesantren. Beberapa karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil, mengambil latar kisah di pesujudannya ini di mana dia memberikan ajaran rahasia agama kepada muridnya, seorang bekas abdi dalem Majapahit yang terpelajar bergelar Wujil (Abdul Hadi W. M. 2000:96-107).

Suluk-suluk Sunan Bonang
Sunan Bonang adalah penulis prolifik. Karangan-karangannya dapat digolongkan ke dalam dua kelompok: (1) Untaian puisi mistikal yang lazim disebut suluk dalam sastra Jawa. Dalam suluk-suluknya dia mengungkapkan pengalaman keruhaniannya mengikuti jalan sufi. Dalam suluknya pula dia menyampaikan pokok-pokok ajaran tasawuf melalui ungkapan-ungkapan simbolik sastra. Di antara suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Linglung,  Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk Wregol dan lain-lain. (2) Karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai sastra Arab dan Persia.
Drewes (1968, 1978) telah mencatat sejumlah naskah yang memuat suluk-suluk Sunan Bonang. Khususnya yang terdapat di Museum Perpustakaan Universitas Leiden, dan memberi catatan ringkas tentang isi suluk-suluk tersebut. Penggunaan tamsil pencinta dan Kekasih misalnya terdapat dalam Gita Suluk Latriyang ditulis dalam bentuk tembang wirangrong. Suluk ini menggambarkan seorang pencinta yang gelisah menunggu kedatangan Kekasihnya. Semakin larut malam kerinduan dan kegelisahannya semakin mengusiknya, dan semakin larut malam pula berahinya (`isyq) semakin berkobar. Ketika Kekasihnya datang dia lantas lupa segala sesuatu, kecuali keindahan wajah Kekasihnya. Demikianlah sestelah itu sang pencinta akhirnya hanyut dibawa ombak dalam lautan ketakterhinggaan wujud.
Dalam Suluk Khalifah Sunan Bonang menceritakan kisah-kisah kerohanian para wali dan pengalaman mereka mengajarkan kepada orang yang ingin memeluk agama Islam. Suluk ini cukup panjang. Sunan Bonang juga menceritakan pengalamannya selama beradadi Pasai bersama guru-gurunya serta perjalanannya menunaikan ibadah haji ke Mekkah.
Perjuangan Sunan Bonang
Nama lengkap Sunan Bonang adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim Sunan Bonang.
Raden Ibrahim (Sunan Bonang) adalah putra R. Rochmat Sunan Ampel dengan Ny. Ageng Manila (Dewi Tjondrowati) putri R. Arya Tedja, salah satu tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban. Menurut sumber, R. Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 1465 M.
Ketika R. Ibrahim berumur 7 tahun, beliau pergi mengaji ke Mesir selama 6 bulan. Setelah sampai di tanah Jawa, R. Ibrahim langsung masuk ke kebun ayahnya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Beberapa hari kemudian Sunan Ampel baru mengetahui bahwa di dalam kebunnya ada seorang pemuda, anehnya saat itu Sunan Ampel tidak mengenal siapa dia sebenarnya dan dari mana asal usulnya. Ketika ditanya R. Ibrahim sendiri juga tidak menjelaskan siapa dirinya sebenarnya.
Oleh Sunan Ampel, R. Ibrahim dipercaya untuk mengajar dan menjadi kepala pondok milik Sunan Ampel. Perintah tersebut dilaksanakan dengan baik selama 40 hari, akhirnya barulah diketahui siapa sebenarnya pemuda tersebut. R. Ibrahim mendapat perintah dari ayahnya untuk pergi mengembara dengan suatu wasiat agar R. Ibrahim naik ke Gunung Dumas, dan tidak boleh berhenti sebelum sampai di suatu hutan yang namanya Alas Kemuning. Bertahun-tahun R. Ibrahim mengembara tanpa makan dan tidur hingga akhirnya ditemui oleh Nabiyullah yang bernama Chidir, dan diperintah agar R. Ibrahim turun pada sebuah batu kemuning.
Empat hari kemudian Nabi Chidir menemui kembali dengan menunjukkan bahwa hutan inilah yang dimaksud dengan hutan atau alas Kemuning, serta memerintahkan agar R. Ibrahim bermukim di tempat itu. Setelah R. Ibrahim menetap di alas Kemuning, beliau mendapat perintah untuk berkhalwat (bertapa) pada sebuah batu, dan batu itulah yang kita kenal dengan Pasujudan (tempat sujudnya R. Ibrahim kepada Allah SWT). Ketika R. Ibrahim berumur 30 tahun beliau menerima pangkat kewalian dari guru Mursyid, dan dikenal dengan nama Kanjeng Sunan Bonang.
R. Ibrahim Sunan Bonang mempunyai seorang santri yang bernama K. Nagur. K. Nagur inilah santri yang dapat dilihat oleh orang banyak. Sebab kebanyakan santri beliau tidak terlihat oleh mata manusia biasa.
Selang beberapa lama setelah beliau menerima pangkat wali (Sunan), beliau mendirikan sebuah masjid di Desa Bonang.
Diceritakan dalam sejarah, bahwa pada suatu ketika pernah ada seorang pendeta Hindu yang mengajak berdebat dengan Sunan Bonang, bahkan kemudian pendeta Hindu itupun mengakui kekalahannya, akhirnya bertobat serta menyatakan diri masuk Islam.
Pada masa hidupnya dikatakan, bahwa Sunan Bonang itu pernah belajar di Pasai. Sekembalinya dari Pasai, Sunan Bonang memasukkan pengaruh Islam ke dalam kalangan Bangsawan dari Keraton Majapahit, serta mempergunakan Demak sebagai tempat berkumpul bagi para Wali, serta pusat Kerajaan Islam. Raden Ibrahim Sunan Bonang menjadi Muballigh dan Imam di wilayah pesisir sebelah utara, mulai dari Lasem sampai Tuban. Disanalah Sunan Bonang mendirikan pondok-pondok sebagai tempat penggemblengan para santri dan muridnya. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Sunan Bonang tidak menikah sampai beliau wafat, tetapi dalam riwayat lain menyebutkan bahwa R. Ibrahim Sunan Bonang menikah dengan Dewi Hirah putri dari R. Jaka Kandar serta mempunyai keturunan satu yang bernama Dewi Rukhil.

Dewi Rukhil menikah dengan Sunan Kudus Ja’far Shodiq. Dari pernikahan Ja’far Shodiq dengan Dewi Rukhil binti Sunan Bonang lahirlah R. Amir Khasan yang wafat di Karimunjawa dalam status jejaka.
Tahun 1525 M, Raden Maulana Makdum Ibrahim Sunan Bonang wafat dalam usia kurang lebih 60 tahun, dimakamkan di rumah kediaman beliau (Ndalem) di desa Bonang Lasem. Setengah riwayat menyebutkan bahwa makam beliau terletak di Tuban, ada pula yang mengatakan di Madura. Semua itu menunjukkan karomahnya Sunan Bonang yang mungkin terjadi bagi seseorang yang menjadi kekasih Allah (Waliyyullah). Hal ini mempunyai hikmah bagi para pengikutnya.